Kilas Pandang Kitab Amtsilati Karya KH. Taufiqul Hakim Jepara Jawa Tengah

Kitab Amtsilati karya KH. Taufiqul Hakim, Jepara, Jawa Tengah


A. TAQDIM

Sejak awal kemunculannya, lingustik arab - ilmu nahwu – gramatika arab ( sintaksis ) adalah menjadi perhatian para pemerhati yang sangat serius. Hal ini didasarkan pada ekspansi islam yang niscaya berinteraksi dengan kalangan non arab ( ajam ) sehingga keabsahan bahasa arab original ( Fusha ) banyak terkontaminasi bahasa non arab dan banyak melenceng dari yang semestinya.

Pada periode awal munculnya keilmuan gramatika bahasa arab terbukti disebabkan oleh beberapa kasus ungkapan yang dilontarkan dalam komunikasi kehidupan sehari-hari. Diantara kasus tersebut adalah ungkapan ambigu yang diucapkan oleh putri tokoh awal ilmu nahwu yaitu Abu Aswad Ad Daulli yang mengatakan pada ayahnya dengan ungkapan “ ما أحسنُ السمآءِ  “ . mendengar ungkapan tersebut, maka Abu Aswaq Ad daulli menimpalinya dengan jawaban “نجومُها  “. Kemudian ia berkata “ Hai ayah ! Bukan itu yang aku maksud, yang aku maksud adalah “ Alangkah indahnya langit itu “. Oooh…. Jika itu yang kamu mau, maka kamu harus mengatakan

“ما أحسنَ السمآءَ !   “. 

Sejak peristiwa itu Abul Aswad menghadap Amirul mukminin, Ali bin Abi Thalib ra. Kemudian beliau merekomendasikan Abu Aswad untuk menyusun gramatika bahasa arab melalui  arahan dan bimbingannya dengan tujuan untuk menjaga keotentikan bahasa arab sebagai bahasa Al Qur’an.

Diantara keseriusan para salafuna as sholih dalam menjaga kebenaran bahasa arab, Imam Hasan Al Bashri ra. ketika salah berucap spontan dia beristighfar kepada Allah swt, atas kesalahan berucapnya. Maka dikatakan kepadanya, mengapa anda beristighfar hanya karena salah bahasa?.  Dia menjawab, barang siapa yang salah berbahasa arab, maka dia telah berbohong pada mereka ( orang-orang arab ), dan barang siapa yang berbohong, maka dia telah melakukan perbuatan su’ ( buruk ). Bukankah Allah berfirman ;

من يعمل سوء أو يظلم نفسه ثم يستغفر الله يجد الله غفورا رحيما  ( النسآء ؛ 110 )

Dari abad pertama lahirnya ilmu nahwu hingga saat sekarang, senantiasa mengalami fase-fase tajdidud thoriqoh atau pembaharuan metode dalam implementasi penyusunan kitab dan pembelajarannya. Seperti halnya kitab / buku gramatika bahasa arab yang berbentuk natsar ( prosa ) dan nadham ( syi’ir ) dari yang cakupannya luas hingga simple dan sederhana. Upaya tajdid tersebut adalah untuk memberikan kemudahan dalam mempelajarinya sehingga ghirah belajar dari generasi ke generasi tetap kokoh dan kuat.

Konsep  يسروا ولا تعسروا  yang disabdakan oleh nabi Muhammad saw, adalah sangat tepat untuk diterapkan di setiap pereode perkembangan kemajuan zaman, terlebih di era informasi ini yang tak bisa dielakkan, dimana hal-hal yang sifatnya makro bisa diakses dengan sangat mudah dan cepat. Hal inilah yang menuntut para pemerhati pendidikan senantiasa berkreasi dan berinovasi sebagai alternative jawaban dari yang disabdakan oleh nabi Muhammad saw, tersebut.

Amtsilati adalah termasuk diantaranya. Amtsilati adalah sebuah metode mutakhkhir program pemula memahami gramatika bahasa arab, yang berisi materi-materi pokok yang layak dikenal dan diketahui lebih awal bagi para pemula secara sistimatik. Amtsilati tak ubahnya adalah nadham Alfiah ibnu Malik, yang mengkolaborasi antara shorfiyah dan nahwiyah. Namun, walaupun demikian Amtsilati masih tergolong kitab / buku yang digunakan untuk kalangan atau tingkat dasar bukan menengah ataupun mahir.

B. LATAR BELAKANG

Lahirnya AMTSILATI berawal dari pengalaman nyatri Penulis di PP Maslahul Huda Kajen Margoyoso dan bersekolah di Perguruan Islam Mathali’ul Falah dibawah asuhan KH. Sahal Mahfudh dan KH. Abdullah Salam. Hal tersebut berdasar pada pengamatan dan perenunngan beliau bahwa asumsi masyarakat enggan belajar ilmu nahwu dan shorof disebabkan karena belajar gramatika bahasa arab dan membaca kitab itu sulit. Maka kemudian muncullah sebuah pertanyaan di benak beliau,  Adakah metodhe atau cara yang dapat mengantarkan santri mampu membaca kitab kuning dengan cepat ? sebagaimana orang yang belajar membaca al qur’an dengan metode qira’ati yang sangat cepat ?. Pertanyaan ini timbul dibenak beliau mengingat kebanyakan teman beliau yang sudah banyak hafal nadhoman kitab Alfiyah namun belum juga bisa mampu membaca kitab kuning.

Sejak itulah Penulis mulai proses menulis rumus-rumus dan dasar-dasar sampai terkumpul sebanyak 150 bait. Berlangsunglah uji coba pembelajarannya  pada empat temannya yang bersama-sama bekerja di suatu perusahaan Mebel di desanya dan dirasakan hasilnya sangat signifikan.

Merasa kurang puas dengan keilmuan beliau, kemudian beliau dengan tekad dan semangat yang kuat ingin memantapkan mujahadahnya beliau  mondok kembali dan berguru Thoriqoh di Pesantren KH. Salman Dahlawi Popongan. Namun selang seminggu beliau mondok tiba-tiba ujian dan cobaan Allah menimpa beliau. Ayahnda beliau meninggal dunia. Dan yang sangat menjadi kedukaannya beliau tidak bisa mengantarkan almarhum ke tempat pemakaman beliau. Dengan ketabahan dan kesabaranya beliau mampu menyelesaikan bimbingan thoriqoh dan dinyatakan lulus dalam waktu yang relatif cepat, beliau menyelesaikannya dalam waktu 100 hari.

Mulai tanggal 27 Rajab 2001, beliau riyadloh dan mujahadah dengan melazimkan amalan thoriqoh sampai tanggal 17 Romadlon 2001. Dalam perjalanan riyadloh dan mujahadahnya,  beliau seakan-akan dihadiri oleh Mursyidud Thoriqoh bersama para auliya’illah, diantaranya adalah K . Mutamakkin dan penyusun kitab Alfiyah yaitu Al Allamah Muhammad ibni Abdillah Ibni Malik Al Andalusy. Sejak itu munculah dorongan yang amat keras untuk menulis dan pada tanggal 27 Romadlon 2001, dengan ijin Allah SWT. selesailah penulisan Amtsilati.


HAKIKAT DAN TUJUAN BELAJAR AMTSILATI

I. HAKIKAT AMTSILATI
Jika didefinisikan, maka Amtsilati adalah ;

“    قواعـــد اللغة العربية الأساسية على الطريقة الحديثة بأمثلة من الآيات القرانية
سهولة الهضم والفهم المحبوبة واللآئقة للمبتدئين من الصبيان والغلمان و ذوي الهرم   “

“ Qoidah –qoidah bahasa Arab tingkat Dasar model terbaru, Dengan Contoh-contoh dari ayat-ayat Al Qur’an Yang  Mudah Dicerna, mudah difahami dan Menyenangkan, layak bagi pemula baik  Kanak-kanak, remaja  ataupun Kawak-kawak “

Dari definisi tersebut, maka amtsilati hanyalah materi-materi dasar yang didesain dengan formula khusus dengan contoh-contoh yang hampir secara keseluruhan menggunakan ayat-ayat al qur’an. Dalam penerapannya Amtsilati menggunakan pendekatan system AKOMUDIS ( Aktif, Komunikatif, Dialogis ) dari semua unsur elemen yang terlibat didalam proses belajar mengajar.

Amtsilati bukanlah segala-galanya, Terlebih amtsilati hanyalah contoh-contoh. Sebagaimana penulis selalu mengungkapkan bahwa ;

- Amtsilati hanyalah Contoh bukan Tokoh
- Amtsilati hanyalah Jembatan bukan Tujuan
- Amtsilati hanyalah Pemula bukan Pemuka
- Amtsilati hanyalah Penunjang bukan Penerjang
- Amtsilati hanyalah Wasilah bukan Pemisah

Selain menggunakan pendekatan system AKOMUDIS tersebut di atas, dalam penguatan daya serap dan hafalannya amtsilati juga menggunakan pendekatan sebagai berikut ;

-  TA’WID (تعــويد   ) yang bermakna pembiasaan. Dapat juga dikata Takrir pengulangan, yaitu santri dibimbing untuk mengulang-ulang atau membiasakan membaca materi yang dipelajari secara terus menerus, baik rumus qoidah maupun kholashahnya, dengan kata lain bisa itu karena biasa

-  TAHFIDH (  تحفيظ ). Setelah santri mengulang-ulang atau melakukan pembiasaan membaca materi rumus qoidah atau kholashah, maka efektifitas hal tersebut akan melaju pada proses hafal.   Dengan hafal santri akan lebih mudah memasuki jenjang atau tahap berikutnya yaitu Tafhim

-  TAFHIM (تفهيم  )   yang bermakna faham atau memahamkan. Santri akan bisa membaca Basamalah yang tanpa harakat karena diulang-ulang atau dibiasakan menbacanya berkali-kali sehingga ketika hafal akan lebih mudah memberikan pemahaman kandungan materi yang tersirat di dalamnya.

-  TATHBIQ (تطبيق  )   yang bermakna penerapan. Tahapan ini adalah tahapan akhir yaitu penerapan pada teks-teks bahasa arab atau kitab dengan tanpa mengesampingkan pendampingan / bimbingan dari seorang guru secara continue

II. TUJUAN BELAJAR AMTSILATI

Adapun tujuan mempelajari gramatika bahasa arab khusunya Amtsilati tidak berbeda dengan mempelajari kitab gramatika bahasa arab yang lain, yaitu ;

E           ألإشتغال بتعلم أمثلتي وسيلة إلى معرفة اللغة  العربية
E           ألإشتغال بتعلم اللغة العربية وسيلة إلى فهم معاني الكتاب والسنة
E         ألإشتغال بفهم معانيهما وسيلة إلى العمل بما فيهما من المأمورات والمنهيات
ألإمتثال بالمأمورات والإجتناب عن المنهيات – هي حقيقة التقوى  والتعبد واستحقاق الهداية من الله تعالى

Sesuai dengan sabda rasulullah saw. Beliau bersabda ;

" أحبوا العرب لثلاث خصال، لأني عربي والقران عربية وكلام أهل الجنة عربية "

  “ Cintailah bahasa arab itu karena tiga hal,karena aku bangsa arab, karena alqur’an berbahasa arab dan karena dialect penduduk surga berbahasa arab “

Al ‘Allamah syaikhul Islam Ibnu Taymiyah ra. berkata ;

إن نفس اللغة العربية من الدين ومعرفتها فرض واجب فإن فهم الكتاب والسنة فرض ولا يفهمهما أحد إلا بفهم اللغة العربية وما يتم الواجب إلا به فهو واجب ( إقتضآء الصراط المستقيم 126 )

“ Sesungguhnya bahasa arab itu sendiri adalah bagian dari agama. Mengetahui bahasa arab hukumnya adalah fardlu, karena untuk memahami al qur’an dan as sunnah hukumnya adalah fardlu. Dan seseorang tidak bisa memahaminya tanpa memahami nahasa arab. Dan  sesuatu yang menjadi penyebab sempurnanya sesuatu yang wajib maka hukumnya juga wajib “.( Iqtidlo’usshiratil Mustaqim ; 126 )

Dengan batasan tujuan tersebut di atas, maka tidak ada pertentangan antara amtsilati dengan kitab-kitab klasik terdahulu yang memiliki fungsi dan tujuan yang sama yaitu untuk memahami bahasa alquranul karim yang sekaligus menjadi bahasa surga.

III. SISTIMATIKA MATERI AMTSILATI

Secara umum semua kitab nahwu atau gramatika bahasa arab diawali dengan bahasan babul kalam, dengan alasan bahwa yang akan dibahas pada kitab tersebut adalah tentang kalam arab,  dilanjutkan dengan pembagian kalam itu sendiri menjadi beberapa bagian yang disebut kalimat. Setelah membahas kalimat dengan ciri-ciri dan jenisnya dilanjutkan dengan penjelasan tentang macam-macam I’rab dan tanda-tandanya disusul dengan bab-bab awamil, baik rofa’ nasab, jer dan jazem.

Sedangkan amtsilati sedikit berbeda dalam hal susunan bab-bab materi bahasannya, selain penggunaan contoh-contohnya dengan potongan ayat-ayat al qur’an, hal ini memungkinkan menjadi karakteristik amtsilati itu sendiri. Penulis mentafshil atau merinci lebih spesifik dengan menggunakan nalar satu alur sebelum melalui alur yang lain. Ketika merumuskan tentang kalimat isim, dari ciri-cirinya hingga macam dan jenisnya dituntaskan lebih dahulu sebelum berbicara tentang fi’il. Demikian juga beliau tidak mentafshil secara khusus bab-bab tentang isim-isim yang dibaca rofa’, nasab dan yang lainnya. Hal itu dimaksudkan untuk lebih memfokuskan perhatian dan memudahkan santri faham dengan tanpa menafikan bobot sistematika pada kitab-kitab sebelumnya.

Adapun susunan materi pada buku amtsilati adalah sebagai berikut ;

BAB IV
I. PERSAMAAN DAN PERBEDAAN AMTSILATI DAN YANG LAIN

II. RATIO PERBANDINGAN KEBUTUHAN
ANTARA METODE & KEILMUAN

BAB V
RAHASIA PENYUSUNAN AMTSILATI

Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa hampir semua kitab / buku gramatika bahasa arab memulai pembahasannya dengan bab kalam, dengan alasan bahwa yang menjadi topic pembahasan di dalamnya adalah tentang kalam arabiy. Berbeda halnya dengan buku kecil Amtsilati, yang awal pembahasannya adalah kata-kata yang mabni yaitu huruf jer, dlomir, isyarah dan isim maushul. Sistematika penyusunan seperti itu bukan tidak beralasan, justru di dalam ragkaian ta’lif seperti itu tersirat rahasia ( sir ) yang terkandung di dalamnya.

Berikut ini kami mencoba membahas rahasia-rahasia tersebut, sebagaimana yang kami dapatkan dari penulis amtsilati itu sendiri dengan mengajukan beberapa pertanyaan, di antaranya ;

a. Mengapa Amtsilati diawali dengan pembahasan huruf jer ?

- Penulis menjelaskan perntanyaan tersebut dengan tafshil,

o     Pertama, dengan alasan fenomena al qur’an sebagai sumber dari segala ilmu yang banyak tersirat rahasia di dalamnya diawali dengan  kalimat  بسم الله الرحمن الرحيم  yang huruf pertamanya adalah huruf jer yaitu  بِ .

o    Kedua, بِ  adalah symbol huruf yang berkarakter, yaitu ; selalu berharkat kasrah sebagai symbol tawadlu’, bernoktah satu sebagi symbol tauhid.  

o    Ketiga, secara filosofi setelah huruf  بِ  adalah kalimat  اسم  yang bisa diartikan sebuah derajat yang tinggi di sisi Allah dan makhluknya. Untuk meraih kedudukan, pangkat dan derajat yang mulia tersebut, maka harus didahului dengan sikap tawadlu’ dan beriman serta bertauhid kepada Allah swt. Hal ini diungkap dalam kholashah ibnun Malik pada baitnya yang berbunyi ;

بِالْجَـــــــــــــــــرِّ وَالتَّنْوِيْنِ وَالنِّــــــدَا وَأَلْـــــــ   ۞       وَمُسْنَدٍ لِلْإِسْــــــمِ تَمْيِـــــــــــيْزٌ حَصَــــــلْ

“ Tanda isim dengan jer tanwin,  Al, Nida’       dan musnad ilaih contoh fa’il mubtada’ “
 
o    Keempat, Secara Rasional, yaitu ; bahwa pemula dibayangkan masih belum bisa apa-apa, jadi yang diberikan adalah hal-hal kecil, ringan, mudah, simple dan tidak dijelaskan hakikatnya. Contoh : Kalam adalah ……. Seperti anak kecil cukup diberikan pelajaran bapak, ibu dll. Tidak dibahas, bapak adalah ………. Dan seterusnya…..

b.       Kenapa setelah membahas huruf jer kemudian dlomir ?

o    Sebagaimana dijelaskan pada sya’ir di atas, setelah jer adalah tanwin yang oleh beliau diartikan dengan niat yang baik. Niat menjadi penentu segala perbuatan manusia. Dengan niat perbuatan mubah bisa bernilai ibadah dan begitu juga sebaliknya. Niat tempanya di hati, dan hati bahasa arabnya adalah  dlomir dan dlomir hukumnya harus mabni.

Dari paparan tersebut bisa disimpulkan sebuah pengertian, bahwa selain kita mendahulukan beriman dan tawadlu’ untuk meraih kedudukan mulia kita harus mengokohkan hati kita dengan niat yang benar. Hal ini juga sebagai prinsip dalam aktifitas kehidupan sehari-hari kita.

Selanjutnya jenis dlomir yang disebutkan dalam Amtsilati hanyalah Dlomir munfashil dan dlomir Muttashil tanpa membahas dengan ungkapan dlomir bariz ( tampak ) atau mustatir ( tersimpan ). Hal itu adalah lambang bahwa dalam hidup hati kita harus memperhatikan hubungan / hablun min  al - Allah dan hablun min al - naasi, dengan memperbaiki dua hubungan tersebut maka kita berhak menyandang sebutan Ibadillah as shalihin.

Jumlah dlomir dalam drivasinya berjumlah duabelas yang terklasifikasi menjadi tiga, yaitu Mutakallim, Ghaib dan Mukhotab. Mutakallim adalah symbol keharusan untuk memperbaiki diri sendiri sebelum orang lain.  Mukhotahab adalah symbol keharusan untuk memberikan manfaat pada orang lain. Sedangkan yang Ghaib adalah symbol dari semua yang kita lakukan hanyalah untuk yang Ghaib yaitu Allah swt. Jumlah 12 juga menjadi lambing bahwa, sehari 12 jam, semalam 12 jam, setahun 12 bulan, kalimat tahlil (  لآإله إلا الله  ) 12 huruf, kalimat  محمد رسول الله  12 huruf,  nabi Muhammad lahir pada tanggal 12 dan di surga memancar 12 mata air فانفجرت منه اثنتا عشرة عينا  

Dan mengapa dlomir itu mabni ?. Sebagai jawabannya, dalam hidup harus punya prinsip yang kuat, karena setiap melaksanakan pasti banyak rintangan maka hati kita harus teguh dan kokoh  لا يخافون لومـــة لآئم  dicaci tidak sedih dan disanjung tidak sombong.

c.       Mengapa setelah dlomir membahas Isyarah ?

Sebagaimana dirinci di atas, dlomir atau hati harus kuat dan teguh, sedangkan hati supaya kuat dan kokoh, maka harus diisi dengan petunjuk ( isyarah ) yang juga kokoh ( otentik / au-ten-tik ) yaitu al qur’anil karim

d.      Mengapa dilanjutkan dengan pembahasan isim Maushul ?

Maushul artinya adalah penghubung. Setelah hati kita dikuatkan, diisi dengan petunjuk yang mabni yaitu al qur’an yang tujuan akhirnya adalah wushul yaitu sampai makrifat kepada Allah swt. Untuk sampai pada hal tersebut,  maka harus ada shilah ( penyambung ) yang di dalamnya terdapat robith yang menjaga, membimbing dan menjadi pengikat erat hubungan washil dan maushul. Dengan demikian maka kita akan mencapai puncak akhir tujuan kita dengan terhindar dari bimbingan syetan, sebagaimana dikatakan ;

من لا شيخ له فشيخه شيطان

BAB VI
CARA MEMPELAJARI BUKU AMTSILATI

1. Belajar amtsilati dalam keadaan bersih, rapi dan suci
2. Membaca hadlorah Fatihah pada Mu’allif Amtsilati dan ‘Ulama’ Nuhat
3. Buku jilid, Qoidaty dan Kholashah semua dalam keadaan terbuka
4. Mengawali pembelajaran dengan membaca materi pada Rumus Qoidah dengan diulang-ulang
Contoh : Huruf Jer antara lain :

أمن إلى/ حتى خلا/ حاشا عدا/ في/ عن على/ مذ منذ رب/ ل/ كي/ و ت ك/ ب/ لعل متى

5. Membaca Judul Materi Bab pada halaman buku jilid
Contoh ; من tanpa harakat dibaca مِنْ menjadi مِنْ

6. Menerangkan judul sesuai kebutuhan
7.Gunakan penjelasan yang singkat, bahasa sederhana dan mudah difahami ketika menjelaskan materi
8. Membaca contoh ayat dua kali, bacaan pertama dengan harakat yang lengkap, bacaan kedua dengan waqof. Contoh : فِيْهَآ أَنْهَـــارٌ من مَّآءٍ غَـيْرِ اٰسِنٍ

9. Menjelaskan kata yang bergaris bawah dengan keterangan yang ada di kotak bagian bawah, seperti :
۞         من  adalah huruf jer. Dasarnya ….
۞         من  adalah huruf jer, huruf hukumnya mabni dasarnya ……
۞         إلى الله  , الله   dibaca kasrah karena setelah huruf jer yaitu ….. dasarnya ....

10. Jika dalam contoh ayat terdapat kalimat yang tidak sesuai dengan qo’idah, maka tidak usah dibahas dahulu atau dilewati saja
11.   Senantiasa menanyakan materi yang sudah dipelajari pada contoh-contoh ayat yang ada.
12. Usahakan santri hafal rumus qoidah dan Kholashah
13. Jangan dilanjutkan, jika materi sebelumnya belum difahami
14.Jangan menahan santri yang sudah bisa dan jangan memaksa yang belum faham untuk dilanjutkan
15.  Mengakhiri pembelajaran dengan membaca ulang materi pada Rumus Qoidah
16.  Menutup dengan pembacaan do’a


PENUTUP
KESIMPULAN

Manusia dilahirkan dalam keadaan lemah fisik maupun psikis. Walaupun demikian manusia lahir memiliki kemampuan yang bersifat fithrah. Namun kemampuan bawaan yang dimiliki tidak akan berkembang dengan sendirinya, masih membutuhkan instruksi dan mujahadah, bimbingan dan pemeliharaan yang intens, terlebih pada usia dini.

Dengan tawaran metode pembelajaran Amtsilati kita sambut dan kita jemput gairah belajar anak-anak kita khususnya pada bidang gramatika bahasa arab. Jadikan Amtsilati pondasi awal yang mendasar sebagai legitimasi kemampuan menuju jenjang di atasnya. Berikan mereka kemudahan bukan mempersulit, berikan mereka kesenangan jangan membuat mereka gelisah. Sayangilah anak-anak kita, karena mereka butuh dipuji bukan dicaci, mereka butuh dibimbing bukan dibanting, mereka butuh disetir bukan diusir dan mereka butuh ditanyakan bukan disirna dan dilenyapkan.

Ingat pesan mulia !

يسروا ولا تعسروا وبشروا ولا تنفروا واذكروا أن أولادكم يولدون في زمان غير زمانكم !


(Amtsilaticom)

No comments

Post a Comment

Home